Langsung ke konten utama

Postingan

Pola Awet-Rajet

POLA relasi atau hubungan personal bisa bermacan-macam. Salah satunya apa yang oleh orang Barat disebut love-hate relationship. Ada kontradisksi di sana. Di satu sisi ada cinta, kasih sayang, tapi di sisi lain, ada benci dan ketidaksukaan. Dalam bahasa Sunda, ada pola hubungan yang diistilahkan sebagai awet-rajet . Hubungan yang langgeng, sampai batas waktu tertentu, tapi kerap diwarnai dengan aneka pertikaian. Langgeng mungkin karena ada cinta di sana. Tapi, ada juga pertikaiaan serta perseteruan karena di sana ada pula kebencian yang membara. Idealnya, pola hubungan adalah love-love relationship . Atau juga awet-awet. Jangan awet tapi rajet . Ada sebuah lagu yang melukiskan pola hubungan love-hate relationship dan awet rajet ini. Lagunya dibawakan oleh Eminem dan Rihanna. Judulnya Love the Way You Lie . Sebagian liriknya berbunyi seperti ini. Just gonna stand there and watch me burn But that's all right because I like the way it hurts Just gonna stand there a...

Nelangsa tapi Perlu Tetap Tegar

KEHILANGAN orang tercinta, beserta semua kenangan yang menyertainya, senantiasa membuat kita nelangsa. Namun, kita mesti tegar menghadapinya. Pandemi corona (Covid-19) benar-benar memporak-porandakan kehidupan kita. Dampak yang ditimbulkannya sangat masif dan menerpa nyaris semua aspek kehidupan. Akibat pandemi corona, banyak orang mengalami kehilangan -- mulai dari kehilangan tempat nongkrong, kehilangan pekerjaan hingga kehilangan orang-orang tercinta. Tragis memang. Tapi, itulah realitanya. Itulah kehidupan yang, suka atau tidak, harus kita lakoni dan hadapi. Kehilangan, apalagi kehilangan orang tercinta, beserta kenangan-kenangan yang menyertainya, senantiasa membuat kita nelangsa. Tapi, toh kita perlu pula tegar.Tak boleh nelangsa merundung diri kita selamanya. Nelangsa di satu sisi, tapi perlu tetap tegar di sisi lain boleh jadi dialami oleh Adam Levine, Stefan Johnson, Jordan Johnson, Michael Pollack, Jacob Kasher Hindlin, Jon Bellion dan Vincent Ford tatkala kawan ...

Antassalam, 'Andaikan', dan Camelia Malik

DI zamannya, radio Antassalam bukan hanya menjadi stasiun radio dangdut paling top di Kota Bandung, tetapi juga pernah menjadi stasiun radio dengan rating teratas di ibukota Jawa Barat ini. Mari kembali ke awal tahun 90-an. Jika Jakarta saat itu memiliki CBB , stasiun radio dangdut yang mengudara di frekwensi 107,55 MHz, maka Bandung mempunyai Antassalam , di frekwensi 106,5 MHz. Mengudara dari Jalan Purwakarta 200, Antapani, Bandung Timur, Antassalam dulunya bernama Fortune , yang berformat multisegmen. Setelah menyandang nama  Antassalam , format berubah menjadi radio dangdut. Daya pancar Antassalam terbilang lumayan kuat. Di Desa Sukarame, Sukanagara, Cianjur Selatan, yang jaraknya sekitar 112 kilometer dari Bandung, siaran Antassalam dapat diterima dengan jelas, layaknya stasiun radio lokal. Saban hari, lagu-lagu dangdut mengalun dari stasiun radio ini. Salah satu lagu dangdut yang kerap mengudara lewat Antassalam ketika itu adalah "Andaikan" dan "Perp...

Terlalu Indah Dilupakan

TEMPAT mungkin saja berubah, tapi kenangan yang menyertainya tetap abadi. Torehan kenangan bisa tercipta kapan saja dan di mana saja. Dimensi waktu maupun tempat kemudian menjadi saksi bagi kenangan yang tercipta. Kenangan manis romantis yang tertoreh tak jarang terus dikenang lantaran mungkin terlalu susah atau justru terlalu indah dilupakan. Ada kenangan yang tercipta saat kita sedang dalam sebuah perjalanan. Entah itu di atas bus antarkota, di dalam kereta atau juga di atas pesawat. Mungkin juga kenangan itu tercipta ketika kita sedang melintas di salah satu jalan di sebuah kota. Berpuluh tahun setelah momen kenangan kita alami, mungkin saja tempat-tempat yang pernah menjadi saksi sejarah kenangan itu telah berubah, bahkan tiada. Namun, meski tempat-tempat itu berubah, atau juga tiada, kenangannya sediri boleh jadi tetap abadi, lekat terpatri di hati sanubari. (jok)

Corona dan Kelelawar Sayapnya Hitam

VIRUS corona (Covid-19) disebut-sebut memiliki kaitan erat dengan kelelawar. Wabah virus corona menjalar ke mana-mana. Dari yang asalnya cuma melanda Wuhan, Tiongkok, kini nyaris merata merundung berbagai negara. Termasuk Indonesia. Kelelawar dicurigai sebagai penyebab corona. Temuan sejumlah peneliti menunjukkan bahwa virus pemicu COVID-19 sempat terlihat pada kelelawar tapal kuda yang ada di Tiongkok. Sementara itu, ada juga sebagian peneliti lain yang meyakini bahwa trenggiling adalah hewan utama yang berperan dalam penularan virus corona ke manusia. Sudah barang tentu, perlu penelitian lebih jauh untuk lebih memastikan hal ini. Dengan begitu, bisa didapat kesimpulan yang tegas ihwal hewan mana yang paling berperan dalam penularan virus corona. Kelayapan malam Dalam bahasa Sunda, kelelawar disebut kalong . Mereka yang sering kelayapan malam hingga dini hari atau pun suka begadang sampai dini hari sering dijuluki si Kalong. Terjaga sampai dini hari untuk melakukan sej...

Korona, Kesunyian, dan Kesepian

WABAH virus korona (Covid-19) yang kian meluas saat ini telah mendorong otoritas di banyak negara menutup rapat-rapat ( lock down ) sebagian maupun seluruh wilayah mereka. Di Indonesia, sejak korona merajalela, pemerintah mengimbau warga untuk menjaga kontak dan menjaga jarak. Warga, jika tidak memiliki kepentingan mendesak, diminta untuk tetap tinggal di rumah masing-masing. Dalam situasi di mana penyakit menular mewabah dengan cepat dan luas, mengisolasi diri merupakan langkah terbaik. Mengisolasi diri bukan hanya dapat mencegah kita tertular penyakit (saat kita sehat), melainkan juga mencegah kita menularkan penyakit ke orang lain (ketika kita mungkin saja  telah terinfeksi virus penyakit). Saat wabah penyakit menular merajalela, laku soliter, mengisolasi diri, menyepi dari keramaian, berguna untuk memutus rantai penyebaran penyakit.  Hidup dalam kesunyian, hidup dalam kesendirian, menjauh dari keramaian, dapat ikut menyelamatkan jiwa orang lain. Di luar soal ...

Dangdut dan Martabat Musik Indonesia

“Music is a moral law. It gives soul to the universe, wings to the mind, flight to the imagination, and charm and gaiety to life and to everything.” -Plato PRESIDEN Joko Widodo menilai dangdut lebih bagus ketimbang K-pop. Hal itu diungkapkannya ketika berbincang dengan para siswa-siswi SMA Taruna Nusantara Magelang, di Istana Bogor, beberapa waktu silam. "Kita boleh saja lihat K-Pop. Tapi, kita kan juga punya musik yang lebih bagus. Keroncong, dangdut, lagu daerah yang kita miliki," kata Presiden Joko Widodo, seperti dikutip sejumlah media. Suka atau tidak, dangdut memang identik dengan Indonesia. Dangdut is the music of my country , begitu kata para personel Project Pop. Kalau Korea boleh bangga punya K-pop, maka Indonesia semestinya bangga punya dangdut. Menurut Andrew N Weintraub, Professor Musik di Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, yang juga penulis  buku bertajuk Dangdut Stories: A social and Musical History of Indonesia ‘s Most Popular Music , salah sa...